LOE MASIH MINUM KOPI KAYA GITU ?????

Pertanyaan itu terucap salah seorang kawan pemilik kedai kopi yang cukup terkenal di jakarta, sepersekian detik dalam imajinasi liar untuk menyiram kopi yang sedang saya seruput ( kemuka nya ).

” Elu masih minum kopi kaya begitu ???? ” begitu katanya setelah dia tau saya memesan segelas kopi robusta. ( abaikan imajinasi liar saya karena urung saya lakukan, selain takut ngajak berantem…saya lebih sayang sama kopi nya ).

Apa sih yang salah sama robusta?? Kenapa sih sampe begitu nya ??

Robusta di indonesia kalau bicara jujur memang masih dianggap kopi kelas dua, atau kopi murah. Berbeda jauh dengan saudara sekandungnya yaitu Arabica , kenapa begitu ?. Sebelum nya mari kita bahas sedikit tentang perbedaan kopi Robusta dan kopi Arabica ( secara umum )

Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan kopi robusta selalu tertinggal kelas di bandingkan dengan Arabica. 

  • Harga
  • Rasa
  • Image dan Doktrin

HARGA

Robusta memiliki harga jual di pasaran jauh lebih Rendah daripada Arabica. Sebagai perbandingan untuk harga greenbean Robusta di pasaran per kg 35rb – 80rb* (Fine Robusta) dan Arabica memiliki harga greenbean per kg 50rb – 200rb* (Specialty). Harga ini bukan lah patokan yang mutlak karena beberapa kali pengalaman saya menemukan harga kopi greenbean Robusta jauh di bawah itu, dan bahkan saya pernah menemukan harga kopi greenbean Arabica seharga 2,75 jt PER KG ( Panama La Esmeralda ). BAYANGKAN !!

RASA

Robusta memiliki rasa yang tidak se kompleks Arabica, pada Robusta jamak kita temukan rasa Nutty , Caramel , Brown sugar , High Bitter , Salty dan kadang memiliki DEFECT / cacat rasa yang ajaib… ( ikan asin , kardus basah , air garam , obat obat tradisional dll dll). Tetapi dari misterius nya rasa robusta semakin menarik untuk di teliti, sebagai Q Grader Arabica dan Robusta saya sangat menikmati sesi cupping. Selain membuka wawasan baru tentang kopi tetapi saya di tuntut untuk menikmati segala jenis kopi, baik yang nilai nya tinggi maupun rendah. Berbanding terbalik dengan Arabica, kita tidak asing apabila menemukan rasa yang kompleks seperti Fruity , Floral , Nutty , dan Sweetness dan Acidity yang tinggi. Hal ini tidak di pungkiri dikarenakan bermuara pada proses pasca panen kopi itu sendiri, perlakuan yang berbeda di lakukan pada petani atau prosesor. Terkadang balik lagi seperti analogi telur dan ayam, mana yang lebih dulu harus di perbaiki ? Apakah proses pasca panen nya ? Karena hal ini ada korelasi nya dengan harga jual. Apakah dengan USAHA yang lebih para petani dan prosesor dalam penanaman dan mengolah pasca panen yang sesuai dengan standar akan memiliki MARKET yang menerima nya?. Atau MARKET nya terlebih dahulu mengadaptasi harga beli nya dengan asumsi greenbean yang di dapat akan memiliki kualitas baik ? ( BIMBANG ). 

IMAGE dan DOKTRIN

Di awal tulisan saya buka dengan teman saya secara tidak langsung tidak menghargai kopi Robusta. Ya itulah cuma sedikit contoh dari jauh nya image antara Kopi Robusta dan Arabica, bahkan ada doktrin yang mengatakan kopi Robusta itu kopi orang orang tua, atau kopi kelas bawah. Ironi padahal yang kita nikmati dari dahulu adalah kopi yang PAHIT dan KENCANG yang merupakan karakter khas dari kopi Robusta, giliran di kasih kopi Arabica mengeluh aduh kopi nya asam blablablabla.

Saya memiliki ide muluk 

Pertama perbaiki dari petani nya dengan penanaman yang baik dan benar ( saya rasa para petani akan lebih pintar dari kita ). 

Kedua EDUKASI proses pasca panen yang baik dan benar, disini Q Prosesor / QP yang bersertifikat memiliki peranan penting. Karena para QP dapat memberikan saran dalam proses pasca panen yang baik dan benar ( pemetikan , fermentasi , pengolahan , pengeringan dll), alhasil kualitas dari panen cherry sampai greenbean  akan memiliki kualitas yang jauh lebih baik. 

Ketiga peranan Q Grader Robusta akan sangat menunjang untuk Quality Control untuk memberikan feedback kepada petani atau prosesor untuk peningkatan kualitas panen (Berikan Scoring yang jujur). 

Ke empat Peranan pemerintah sangat penting untuk menyalurkan atau setidak nya mendorong konsep FAIR TRADE, hal ini penting untuk para petani dan prosesor dalam menyalurkan atau menjual hasil panen nya. Yang sekarang terjadi para petani dan prosesor akan khawatir dengan hasil panen nya, mau di jual kemana? Padahal sudah banyak investasi yang di keluarkan ( Tenaga , Uang , Waktu dsb ). Apabila MARKET sudah terbentuk mudah mudahan kualitas kopi Robusta akan meningkat, dan image kopi Robusta tidak tertinggal jauh dari Arabica. 

Ke lima mulai lah menghargai kopi itu sendiri, baik Arabica dan Robusta dan lain nya jauhkan dari image dan doktrin gaya gayaan yang selama ini kita lakukan. Dengan kita menghargai kopi, kita akan mengerti begitu panjang nya proses yang dilakukan para petani, prosesor, roaster dan brewer sehingga kita bisa menikmati kopi. Hargai kopi maka kita akan menghargai orang orang yang terlibat di dalam nya. Stop jargon kopi itu di giling bukan di gunting ( disuruh bikin kopi yang di gunting secara rasa dan konsistensi juga belum tentu kita bisa ).

Robusta adalah masa depan

Seiring perubahan iklim yang ekstrem akan sangat mempengaruhi hasil panen, apalagi kopi Arabica yang menuntut penanaman di ketinggian yang cukup tinggi (temperatur dingin). Hal ini dikarenakan peningkatan temperature bumi yang semakin tinggi mengakibatkan penanaman kopi Arabica akan semakin mencari ketinggian yang lebih (temperatur menjadi hangat sehingga mencari temperatur dingin). Yang paling signifikan adalah produktifitas dari kopi arabica yang akan semakin menurun nanti nya, karena penanaman bibit harus di mulai dari sekarang untuk mengejar peningkatan temperatur bumi. Bisa dilihat dari *tabel yang saya kutip http://www.ico.org/prices/new-consumption-table.pdf komsumsi kopi dunia terus meningkat tiap tahun nya tetapi nilai ekspor kopi dunia cenderung di bawah dari tingkat konsumsi kopi dunia. Apabila supply menurun otomatis demand akan naik dan menyebabkan harga kopi Arabica akan naik pula, dan pada saat rentang harga kopi Arabica dan Robusta yang terlalu jauh maka alternatif paling masuk akal adalah ber alih nya komsumsi kopi dari Arabica ke Robusta.

Global Coffee Production to Decrease in 2019/20

World coffee production in coffee year 2019/20 is projected 0.9% lower at 167.4 million bags with a 2.7% decline in Arabica output to 95.68 million bags, while Robusta production is expected to rise by 1.5% to 71.72 million bags. South America’s production is expected to fall by 3.2% to 78.08 million bags, due largely to the decline in Brazil’s Arabica output in its off-year of the biennial crop cycle. Production from Asia & Oceania is projected to grow by 1.9% to 49.58 million bags due largely to a recovery in Indonesia’s output while Viet Nam is expected to remain stable. Central America & Mexico could see an increase of 0.9% to 21.54 million bags while Africa’s output is estimated to decline by 0.6% to 18.2 million bags. World coffee consumption growth is likely to slow in 2019/20 in line with the slower growth expected for the global economy, and demand is projected to increase by 1.5% to 167.9 million bags. ( Dikutip dari http://www.ico.org )

Dikutip dari http://www.ico.org )

Setidak nya saya hanya membayangkan untuk menyiram muka teman saya dengan kopi panas, hal pertama yang bisa saya lakukan adalah hanya bisa menghargai kopi yang saya minum dan orang orang kopi yang terlibat di dalam nya. Kita harus yakin untuk kedepan nya kualitas kopi Robusta tidak kalah dari kopi Arabica. Yuk mari kita coba menghargai kopi yang kita nikmati, salam dari penikmat kopi.

1 Comment on LOE MASIH MINUM KOPI KAYA GITU ?????

  1. Kinda enjoyable article for someone who less reading..

Leave a comment