Kopi… dari masa ke masa…

‘Ngopi, yuk…’ sering kali terucap, kadang bahkan tanpa sadar.  Mengkonsumsi kopi mungkin bukan lagi sekedar kebutuhan untuk terjaga atau melepas dahaga; tapi sudah menjadi suatu gaya hidup.  Dari mana dan bagaimana tren ini dimulai?

Mungkin teman2 sering mendengar istilah2 “first wave coffee”, “second wave coffee” dan, yang sedang terkenal sekarang, “third wave coffee”.  Ini hanya istilah untuk menggambarkan perkembangan industri kopi dari masa ke masa, kok.

Budaya minum kopi sudah lama dimulai di Eropa, tapi mulai melejit pada tahun 1700 an di Amerika Serikat, tepatnya di Boston.  Pada tahun 1773, terjadi protes yang dikenal sebagai Boston Tea Party yang disebabkan oleh tingginya pajak yang diterapkan untuk impor komoditas teh dari Inggris.  Singkatnya, mengkonsumsi kopi menjadi suatu tindakan pemberontakan.

Sejarah mulainya tren minum kopi bisa dikatakan bermula di Amerika Serikat.  Berakar dari kebutuhan pasar yang menginginkan kopi dengan harga terjangkau dan siap seduh, lahirlah kopi gelombang pertama (first wave coffee).  Mungkin ini dapat juga disebut kopi komoditas –  diproduksi massal dengan tingkat sangrai gelap dan ‘berasal’ dari pabrik.  Ini dimulai oleh merek Folgers dan Maxwell House.

https://culinarylore.com/drinks:maxwell-house-coffee-and-teddy-roosevelt/
https://vinbarista.com/en/blog/the-history-of-first-second-and-third-wave-coffee-part-i-first-wave-thread998/

Kemudian, inovasi2 lainnya pun bermunculan; seperti mulainya mengemas kopi dalam kemasan kedap udara dan munculnya kopi instan (dipelopori oleh Nescafe) yang kita kenal sampai sekarang.  Perlahan-lahan, makin terlihat kalau industri ini didominasi oleh perusahaan2 besar yang mementingkan keuntungan dengan mengorbankan rasa. Toh, kopi sudah menjadi suatu keperluan pokok di setiap rumah penduduk Amerika; kuantitas menjadi prioritas.

https://vinbarista.com/en/blog/the-history-of-first-second-and-third-wave-coffee-part-i-first-wave-

Pada tahun 1960 an, mulailah bermunculan kedai kopi atau kafe.  Kopi yang disajikan masih disangrai gelap; tapi karena biji kopi yang digunakan kualitasnya lebih bagus, rasanya pun jauh lebih baik.  Pergerakan ini mulai karena kopi gelombang pertama dianggap berkualitas lebih rendah dan tidak fresh, berbeda yang didapatkan di kafe2.  Peet’s Coffee & Tea dan Starbucks Coffee amat sangat identik dengan awalnya kopi gelombang kedua (second wave coffee).  Mengkonsumsi kopi di kedai kopi menjadi suatu pengalaman yang baru.  Istilah seperti espresso, cappuccino, latte berasal dari era ini.  Barista2 pun mulai bereksperimen dengan minuman2 berbasis kopi, misalnya dengan menambah perisa2 lainnya.  Tujuan semula gelombang kedua ini memang untuk mencari kopi yang notabene lebih enak rasanya; sayangnya, melenceng ke pengalaman atau sensasi yang didapat.

Seperti layaknya semua makhluk hidup berevolusi, pola pikir manusia pun pasti berkembang.  Pasar penikmat Starbucks Coffee mulai merasakan bahwa apa yang mereka ‘konsumsi’ sebenarnya adalah pengalaman, bukan kualitas sebuah kopi; bahwa sebenarnya cara pemasaran Starbucks Coffee amat sangat cerdas!  Lagi2, kopi bukanlah tujuan utama mereka. Nah, individu2 inilah yang membawa kita ke gelombang ketiga (third wave).  Mereka seperti mendapat pencerahan untuk ingin mencari tahu tentang kopi yang mereka konsumsi – asal usulnya, tingkat sangrainya, sampai tanggal sangrainya.  Era ini lebih fokus ke kopinya itu sendiri. Dan ini dipengaruhi juga oleh industri wine yang sangat menjunjung tinggi asal muasal buah anggurnya.  Kebetulan pula, Specialty Coffee Association of America (SCAA) didirikan pada tahun 1982; ini menjadi dorongan lebih untuk memperhatikan kualitas sebuah kopi – dari hulu ke hilir.

Di industri kopi jaman ini, kopi lah yang menjadi pusat perhatian.  Cara pemasaran dan pengalaman tentu tidak dilupakan, tapi yang bintang utamanya adalah si kopi itu sendiri.  Dari cara pasca panen yang benar, tingkat sangrai yang lebih muda, mengekspos cita rasa yang baru dan unik, bereksperimen dengan cara seduh, dst…  Semua ini mengacu untuk mendapatkan yang terbaik dari suatu kopi. Karena ini juga, banyak micro-roastery & kafe2 kecil yang menjamur.  Bisa dibilang, ini adalah suatu idealisme; tapi kembali lagi, sangat terasa bahwa sekarang ini kualitas kopi dunia berada di tingkat yang terbaik…  dimana kita dapat menikmati sebuah kopi single origin dengan rasa yang amat sangat kaya – kadang bisa didapatkan wangi yang mengingatkan kita pada bunga2, permen gulali, rempah2… rasa asam manisnya buah2an, pahit manisnya coklat, atau kacang2an… BAYANGKAN!  Alangkah menariknya!

Di Indonesia sendiri, kita makin peduli dengan kopi, termasuk kesejahteraan para petani dan juga bagaimana menggerakan fair trade.  Banyak yang mengatakan bahwa kita sudah memasuki gelombang keempat (fourth wave).  Apakah iya?  Apakah sudah ada definisi yang pas?

-salam penikmat kopi-

Leave a comment