Variasi Seduhan dengan December Drip

Pada eksperimen kali ini, kami didasari rasa keingintahuan terhadap suatu alat seduh yang jarang digunakan di coffee shop umumnya ketika kami sedang ngopi-ngopi. Ini adalah suatu alat seduh flat bottom, dan bentuknya menyerupai Kalita. Alat seduh flat bottom pada umumnya hanya ada varian 3 dan 4 lubang di dasarnya, akan tetapi December Drip ini merupakan alat seduh unik yang mempunyai total 12 lubang. Alat ini bisa dibagi menjadi 3 mode, dimana setiap mode mempunyai opsi lubang yang berbeda. Nah muncul pertanyaan perbedaan setiap mode dengan banyak lubang yang berbeda, apakah ada pengaruhnya ke ekstraksi kopi ?

https://beanthere.at/2017/09/19/Kit-review-December-Dripper/

Yang lebih menarik lagi eksperimen ini juga akan disertai dengan menutup semua lubang di proses blooming, lalu membukanya lagi ketika memulai 1st pour. Pastinya akan menarik hasilnya. Kami akan membandingkan hasil ekstraksi seduhan dengan blooming seperti biasa, dan blooming ditutup pada setiap mode lubang December Drip.

https://beanthere.at/2017/09/19/Kit-review-December-Dripper/

Catatan : Kami menggiling kopi sekaligus di awal untuk menghindari faktor persebaran partikel gilingan yang tidak merata, hasil gilingan yang digunakan adalah medium-fine. Standar optimal yang digunakan adalah standar SCA (batas optimal 1.15 – 1.35), untuk faktor rasa kita kesampingkan pada eksperimen kali ini.

Dose : 20gr

Rasio : 1:15

Dripper : December Drip, Kalita paper filter ukuran 2

Metode : Agitasi sedang, 4x Pouring
1st Pour : 40ml
2nd Pour : 80ml
3rd Pour : 130ml
4th Pour : 50ml
Total : 300ml
Mode Lubang : 
1 - 4 lubang
2 - 8 lubang
3 - 12 lubang

Alat ukur : VST Refractometer

#1 Seduhan pertama 

Brew Time : 2:30

Temperatur : 87℃

Mode 1 : 4 lubang

TDS : 1.47

Hasil seduhan pertama kami ingin tahu bagaimana ekstraksinya normalnya, dan hasil bacaan menggunakan refractometernya adalah 1.47. Dan hasil bacaan tersebut ternyata diluar batas optimal ekstraksi.

#2 Seduhan kedua

Brew Time : 2.35/2.30

Temperatur : 87℃

Mode 1 : 4 lubang

TDS : 1.34/1.27 

Bloom : 30s dengan lubang tertutup

Hasil seduhan kedua, kami melakukan dua kali penyeduhan untuk membandingkan seduhan dengan lubang tertutup. Seduhan pertama mendapat hasil bacaan TDS ada di 1.34, akan tetapi hasil seduhan lainnya menghasilkan bacaan TDS yang lebih rendah yaitu di 1.27. Akan tetapi kedua seduhan tersebut berada didalam batas standar optimal SCA.

#3 Seduhan ketiga

Brew Time : 2.20/2.30

Temperatur : 87℃

Mode 2 : 8 lubang

TDS : 1.34/1.43

Bloom : 30s dengan lubang tertutup

Hasil seduhan ketiga, kami juga membandingkan seduhan dengan mode berikutnysa. Seduhan pertama menghasilkan TDS 1.34 yang ternyata masih masuk standar seduhan optimal, sedangkan seduhan berikutnya menghasilkan TDS yang lebih tinggi di 1.43 dan tentunya angka ini berada diluar batas seduhan optimal SCA.

#4

Brew Time : 2.30

Temperatur : 87℃

Mode 3 : 12 lubang

TDS : 1.39/1.40

Bloom : 30s dengan lubang tertutup

Hasil seduhan ke empat, kami juga menyeduh sebanyak dua kali. Seduhan pertama menghasilkan bacaan TDS yang cukup tinggi yaitu di 1.39. Yang terjadi di seduhan kedua adalah bacaan TDSnya meningkat lagi ke 1.40. Kedua seduhan ini tentunya sudah berada diluar batas optimal SCA.

Pasti muncul pertanyaan seduhan normal yang tidak menutup lubang saat blooming hasil ekstraksinya lebih tinggi ? Sedangkan seduhan dengan menutup lubang saat blooming menghasilkan hasil ekstraksi yang lebih rendah ?

Yang lebih menarik adalah hasil seduhan dengan lubang yang semakin banyak hasil ekstraksinya semakin tinggi. Mengapakah demikian ? Anggapan kita selama ini bahwa kopi yang diseduh dengan metode rendam/Immersion, atau lebih lama terendam seharusnya menghasilkan ekstraksi yang lebih tinggi. Akan tetapi hasil eksperimen kami hasilnya tidak demikian. Disini menariknya, bahwa kita tidak mengesampingkan faktor agitasi ketika menyeduh kopi. Ingat tulisan kami mengenai pengaruh agitasi terhadap hasil ekstraksi ? 

Jadi kesimpulannya bahwa kopi yang diseduh dengan agitasi yang lebih rendah (4 lubang menyebabkan drip yang lebih lambat sehingga lebih lama terendam) pastinya mempunyai TDS yang lebih rendah, dibandingkan dengan kopi yang diseduh dengan agitasi yang lebih banyak (12 lubang menyebabkan kopi punya ruang agitasi yang lebih maksimnal) yang hasilnya TDS lebih tinggi.

Demikian eksperimen kami kali ini berdasarkan artikel yang ditulis oleh Scott Rao yang meneliti tentang topik serupa

Mari menyeduh , salam penikmat kopi

Leave a comment