Judge IBRC 2019 KENNETH WIJAYA

Praktisi kopi pasti tidak asing dengan nama Vivi Sofia, beliau adalah seorang Q Grader dan trainer yang bersertifikat dari SCA/ AST. Tapi kali ini yang gue ajak ngobrol adalah anak nya yang juga memiliki sertifikasi yang sama seperti nyokap nya ( Q Grader ). Pengenalan Kenneth Wijaya dengan dunia kopi pun bukan baru saja tetapi dari kecil sudah dikenal kan oleh ibu nya ( yang biasa di panggil bu Boss). Cowo lulusan Universitas Surabaya ini pun akhirnya terjeblos ke dunia kopi, dari brewing , roasting , sampai QC pun di kerjakan semua. Yang gue salut Ken dalam usia nya yang masih tergolong muda memiliki kemampuan ” lidah” yang luar biasa, yah tidak heran pasti didikan bu Boss. Yuk kita simak obrolan santai dengan Ken

OmDen :         “Kenapa bisa nyemplung di dunia kopi?”

Ken :               “Jadi awal mulanya, aku ngga ada sama sekali kemauan untuk masuk bidang kopi. Tapi, dari masih SD, aku sering diajak sama my mom (Bu Vivi) untuk bantu kerjaannya, termasuk nyoba-in kopi, produksi, packing, dst. Saat membantu ini juga aku sudah mulai diajari tentang barista dan sedikit-sedikit tentang roasting.  Sampai akhirnya aku pindah ke Surabaya untuk SMA. Selama SMA aku vakum dari dunia perkopian, hanya sekali-sekali saat aku balik ke bali, baru ikut nge-bar sambil refresh sedikit tentang skill barista. Sampai saat itu pun, aku masih ngga punya minat dalam dunia perkopian, malah lebih tertarik dalam memasak. Lalu, di tahun 2017, kebetulan Bu Boss bekerja sama dengan pemilik hotel di Surabaya untuk membuka cabang Simply Brew, dan mereka membutuhkan barista. Aku mulai aktif bekerja sebagai barista sambil kuliah. Baru aku sadar bahwa membuat kopi sebenarnya masih searah dengan passion-ku. Aku enjoy membuat sesuatu untuk dinikmati orang lain. Kepuasan pribadiku adalah saat aku melihat customer enjoy menikmati kopi hasil kreasiku, karena seperti memasak, beda tangan beda rasa”.

OD :                 “Sebelom di bali di surabaya kan? Ceritain donk gimana ?

K:                    “Pada awalnya, aku kewalahan karena di satu sisi aku merupakan perwakilan Simply Brew tetapi juga bekerja untuk hotel. Simply Brew mau mengedepankan quality, sedangkan hotel lebih mementingkan untuk menekan production cost, sementara aku harus berdiri ditengah-tengah. Selain itu, di Simply Brew Surabaya rata-rata customernya punya sikap yg berbeda dari customer di Bali. Banyak yang tidak biasa dengan konsep interaksi antara barista dan customer, sehingga saat aku menanyakan tentang kopinya dengan niat untuk memastikan kepuasan pelanggan, malah direspon dengan kaget atau bingung. Surabaya juga merupakan sarang dari banyak pendekar kopi yang siap untuk menujukan kehebatannya. Aku bekerja di Surabaya sekitar 2,5 tahun sampai akhirnya kuliahku selesai dan aku balik ke bali. Meskipun banyak tantangan, tapi pengalaman tersebut mengajarkan banyak hal, khususnya dalam customer skill dan management skill”.

OD:                  “Sibuk apa sekarang ? Roasting ? Nge barista ?”

K:                    “Sekarang, aku di Bali menjadi roaster , barista, serta consultant bagi customer yang menggunakan kopi hasil roastingan kita.”

OD:                  “Gimana nge roasting rasa nya ?”

K:                    “Roasting merupakan hal yang sangat menarik menurutku. Faktor yang mempengaruhi hasil sangat banyak sehingga banyak ruang untuk ber-eksperimen. Banyaknya faktor ini juga yg membuat aku tertantang untuk belajar lebih dalam mengenai roasting”.

OD:                  “Pake Probat asik ga ? “

K:                    “Jenis Probat yang aku pakai adalah Probat kapasitas 12Kg. Jika ada kesalahan roasting, kerugiannya bisa jutaan juga. Jadi ya, lumayan asik dan menegangkan”.

OD:                  “Kelebihannya apa?”

K:                    “Probat membuat mesin roasting yang bisa memproduksi kopi dengan sangat konsisten. Hasil roastingannya perbatch sangat rata baik dari rasa maupun warna. Mesin ini sangat bersahabat dalam bisnis kopi karena menurutku salah satu kunci terpenting dalam bisnis ini adalah konsistensi”.

OD:                  “Kekurangan nya apa?”

K:                    “Airflow dan Drum speed dari mesin probat tidak bisa dirubah pada saat roasting. Hal tersebut mengurangi faktor yang bisa digunakan pada saat roasting. Maka dari itu mesin Probat sedikit lemah dalam roasting untuk manual brew”.

OD:                  “Gimana scene kopi bali sekarang ?”

K:                    “Di Bali sekarang banyak bermunculan coffee shop baru baik specialty maupun commercial, tapi yang tutup juga tidak kalah banyak. Sekarang juga banyak bermunculan roastery-roastery baru. Untuk pemain kopi lama aku merasa kondisinya cukup stabil. Aku merasa di Bali lebih mudah untuk membangun customer base karena market disini lebih loyal”.

OD                   “Kepake gak ilmu nya jadi Q grader ?”

K:                    “Sebenarnya dibanding dengan ilmunya lebih terpakai gelarnya. Title Q lebih membuka kesempatan untuk membuat atau berpartisipasi dalam acara kopi di Indonesia. Sama seperti gelar sarjana, bukan berarti hanya lulus SMA tidak bisa kerja, tapi akan lebih mudah mencari pekerjaan kalo punya gelar sarjana”.

D:                    “Suka berbeda pendapat gak kalo grading sama nyokap lo?”

K:                    “Jelas Sering. Biasanya yang lebih berapi-api yang menang. “

D:                    “Btw Nyokap lo AST apa? Ceritain donk….”

K:                    “Jadi, Bu Vivi brew bisa memberi kelas Brewing, Roasting, Barista skills, serta introduction to coffee. Selain Intro to coffee, masing-masing kelas memiliki tiga tingkatan, yaitu foundation, intermediate, dan professional. Dia bisa memberi materi, menguji, serta meng-otorisasikan sertifikat bagi yang berminat”.

OD:                  “Ada rencana jadi AST ?”

K:                    “Di kedepannya pasti. Kapannya belum tahu. Masih ingin bersantai sejenak.”

OD:                  “Cerita sedikit donk dengan simply brew … “

OD:                  “ pertama buka kapan?” 

K:                    “Simply Brew buka pada pertengahan tahun 2016. Sebelum Simply Brew, my mom ( Bu Vivi ) kerja di pabrik kopi bali cap kupu-kupu bola dunia ( Bhineka Jaya ). Dia memulai karirnya sebagai sales mesin kopi hingga akhirnya dia menjadi roaster, technician trainer, serta quality control disana. Pada akhir tahun 2015 dia berhenti dan memproduksi kopi sendiri di garasi rumah kita dengan mesin kopi merk Fei Ma kapasitas 6kg. Setelah hampir setengah tahun memproduksi kopi dirumah, dia ditawari untuk membuka roaster yang lebih besar yang sekarang menjadi Simply Brew”

OD:                  “Dimana?”

K:                    “Simply brew berada di Jl. Bypass Ngurah Rai No.127, Denpasar, Bali”

OD:                  “Konsep nya gimana Ken ?” 

K:                    “Awalnya Simply Brew merupakan roastery, bukan café. Jadi, interior design dan equipment yang ada di desain untuk kegiatan roasting dan cupping. Customer yang ingin membeli roasted bean bisa cupping dan trial espresso – based drinks dari biji tersebut. Setelah beberapa bulan, selain untuk membeli biji, kita melihat banyak orang yang datang untuk mencari minuman kopi. Karena ada permintaan, Simply Brew akhirnya dijadikan café juga. Simply Brew sekarang memiliki konsep sebagai café dan tempat memproduksi kopi. Customer bisa melihat secara langsung saat kita roasting, cupping, blending, dst.” 

D:                    “ Target market ?”

K:                    “Target pasar utama kami adalah para pecinta kopi sekitar Denpasar. Kita berusaha untuk memenuhi demand dari masing-masing customer untuk membuat kopi yang diharapkan oleh mereka. Demand para customer tersebut akan berusaha kami ingat agar saat mereka datang kembali, kita langsung tau selera dari customer tersebut. Maka dari itu, di Simply Brew banyak memiliki customer yang datang secara rutin. Selain itu, kami juga mengenalkan kopi Indonesia pada turis-turis yang berkunjung ke café kami.”

D: “Ada rencana buka di jakarta ?”

K: “Untuk Sementara ini masih belum ada. Mungkin kedepannya kalo ada peluang”

D: “Ada rencana ikut kompetisi ? “

 K: “Mungkin 1-2 tahun lagi. For now, lebih tertarik untuk menjadi juri”

D: “Planning nya apa nih kedepannya ?”

 K: “Aku berencana untuk belajar mengenai makanan, since masak juga salah satu dari hobiku. Siapa tahu di kedepannya bisa dikombinasikan dengan ilmu kopi”.

Dan yang perlu di ketahui Ken ini adalah salah satu dari Judge IBRC 2019 (untuk lebih dalam cerita pengalaman nya menjadi Judge bisa di simak di podcast penikmatkopi )

Leave a comment