Kopi Blend – anak tiri?

Teman-teman ingat dongeng tentang Bawang Putih dan Bawang Merah?  Kisah ini menceritakan tentang dua gadis yang sifatnya bertolak belakang dan Ibu mereka yang lebih memanjakan satu daripada yang lainnya.

Entah kenapa, tapi cerita ini selalu terlintas di pikiran pada saat topik kopi spesialti dibahas.  Apakah teman-teman merasakan bahwa pada saat membicarakan specialty coffee hampir selalu yang dibahas adalah kopi single origin?  Kenapa kopi blend, atau campuran, selalu ada di balik layar, seperti si Bawang Putih?

Kopi single origin selalu disebut menampilkan ciri khas suatu area, suatu cara pasca panen dan cita rasa tertentu.  Mungkinkah ini yang membuatnya identik dengan secangkir kopi yang lebih unggul dibandingkan kopi blend?  Atau mungkin karena kopi yang dinilai oleh Specialty Coffee Association, Coffee Quality Institute, Cup of Excellence hanya single origin, sehingga mereka dianggap lebih istimewa?

Sedangkan kopi blend seringkali diasosiasikan dengan kopi kelas kedua, kopi kualitas rendah yang harus dicampur untuk menutupi kejelekannya.  Dan kebanyakan dari masyarakat pun berpikir bahwa blend hanya cocok untuk minuman berbasis espresso.  Memang fakta ini tidak dapat dipungkiri.  Banyak yang memproduksi massal kopi blend untuk memenuhi ekspektasi rasa standar – misalnya, kopi ya pahit, tidak asam, dan kental; dan kemungkinan besar disangrai untuk espresso.

Tapi, ada sisi lain dari kopi blend yang terlupakan.  Tidak selamanya kopi blend harus jadi nomor dua.  Kopi yang sama tapi diproses dengan dua cara pasca panen yang berbeda tentu akan memberi rasa akhir yang berbeda.  Nah, kalau mereka dicampur dan bisa saling melengkapi, mengapa tidak?  Bahkan, ini akan memberi sensasi yang baru dan berbeda untuk para konsumen.

Menurut saya pribadi, memproduksi kopi blend yang bagus tidak semudah satu tambah satu, atau satu tambah dua, dst.  Seorang roaster membutuhkan pengalaman dan keterampilan lebih untuk dapat menciptakan blend yang spesial, yang berbeda dengan yang lain.  Hasilnya?  Sebuah specialty blend dengan cita rasa complex yang mungkin tidak akan didapatkan bila komponennya tidak dicampur.

Sebenarnya balik lagi ke tujuan nge blend kopi itu apa sih? Untuk para roaster pasti sudah tidak asing dan pasti sudah terbiasa dengan bahasa blend itu sendiri. Tujuan blend kopi sendiri sebenarnya untuk mencari karakter rasa tertentu, rasa yang baru dan nilai ekonomis.

Contohnya: kopi Jawa yang di kenal dengan karakter body-nya yang light, pada saat di blend dengan kopi Sumatera yang memiliki karakter body tebal; akan menampilkan keseimbangan pada sisi body/ tekstur. Contoh lainnya: kopi Bali natural yang dicampur dengan kopi dari Flores, tujuannya adalah untuk meningkatkan sweetness dari hasil blend itu sendiri dan ini akan menghasilkan karakter yang baru.

Dari sisi ekonomis pun jelas kopi blend sangat menguntungkan untuk para roaster. Para roaster bisa berkreasi dengan bebas tetapi tetap memperhitungan costing, bisa juga arabica dicampur robusta (yang secara harga lebih rendah dari arabica) dan menghasilkan karakter kopi yang sangat menarik. Hal ini juga menguntungkan dari segi inventory dikarenakan para roaster dapat mengatur dengan leluasa mana yang akan di roasting sehingga ketersediaan stok akan terjaga.

Sudah lama kopi blend menjadi anak tiri, tidak ditampilkan, tapi selalu setia dan rajin memenuhi permintaan masyarakat untuk americano, cappuccino, atau latte.  Mungkin sudah saatnya kita memikirkan sebaliknya; bahwa kopi campuran tidak selamanya berarti kopi sekunder, bisa saja dia adalah specialty blend yang layak untuk dibanggakan, yang akan memberi pengalaman baru. Jadi, kopi single origin atau kopi blend? Tidak ada salahnya kan dicoba? Kembali lagi ke peminatnya masing-masing.

-salam penikmat kopi.

Leave a comment